Upacara adat di Indonesia. Banyak sekali bentuk upacara adat yang dilaksanakan suku-suku di Indonesia. Dengan adanya upacara adat ini semakin menambah aneka ragam kebudayaan Indonesia. Apalagi yang namanya upacara adat
perkawinan, masing-masing suku bangsa tersebut memiliki cara yang
berbeda antara yang satu dengan yang lainya. Upacara pernikahan adalah
upacara adat yang diselenggarakan dalam rangka menyambut peristiwa
pernikahan. Pernikahan sebagai peristiwa penting bagi manusia, dirasa
perlu disakralkan dan dikenang sehingga perlu ada upacaranya. Pelaksanaan
upacara tradisional suatu masyarakat umumnya sangat menarik, karena
memiliki keunikan, kesakralan, dan nilai-nilai moral yang terkandung di
dalamnya. Berikut ini beberapa upacara adat yang ada di masyarakat Indonesia.
Upacara Kasada (Suku Tengger)
Pada malam
ke-14 Bulan Kasada Masyarakat Tengger penganut Agama Hindu (Budha
Mahayana menurut Parisada Hindu Jawa Timur) berbondong-bondong menuju
puncak Gunung Bromo, dengan membawa ongkek yang berisi sesaji dari
berbagai hasil pertanian, ternak
dan sebagainya, lalu dilemparkan ke kawah Gunung Bromo sebagai sesaji
kepada Dewa Bromo yang dipercayainya bersemayam di Gunung Bromo. Upacara
korban ini memohon agar masyarakat Tengger mendapatkan berkah dan diberi keselamatan oleh Yang Maha Kuasa.
Lompat Batu Nias
Lompat batu
(hombo batu) merupakan tradisi yang sangat populer pada masyarakat Nias
di Kabupaten Nias Selatan. Tradisi ini telah dilakukan sejak lama dan
diwariskan turun temurun oleh masyarakat di Desa Bawo Mataluo (Bukit
Matahari). Tradisi lompat batu sudah dilakukan sejak jaman para leluhur
,di mana pada jaman dahulu mereka sering berperang antar suku sehingga
mereka melatih diri mereka agar kuat dan mampu menembus benteng lawan yang konon cukup tinggi untuk dilompati.
Seiring
berkembangnya jaman, tradisi ini turut berubah fungsinya. Karena jaman
sekarang mereka sudah tidak berperang lagi maka tradisi lompat batu
digunakan bukan untuk perang lagi melainkan untuk ritual dan juga
sebagai simbol budaya orang Nias. Tradisi lompat batu adalah ritus
budaya untuk menentukan apakah seorang pemuda di Desa Bawo Mataluo dapat
diakui sebagai pemuda yang telah dewasa atau belum. Para pemuda itu
akan diakui sebagai lelaki pemberani apabila dapat melompati sebuah
tumpukan batu yang dibuat sedemikian rupa yang tingginya lebih dari dua
meter.
Grebeg Suro (Surakarta)
Grebeg suro disebut juga dengan kirab pusaka. Kirab pusaka adalah upacara adat
yang dilaksanakan oleh keraton Kasunanan Surakarta, yang merupakan
cabang budaya berupa tatacara keraton. Upacara grebeg suro tidak hanya
sebagai sarana memanjatkan doa dan mencari berkah saja tetapi juga
sebagai bentuk penyampaian nilai moral kepada masyarakat disekitarnya.
Kenduren (Jawa)
Kenduren/
selametan adalah tradisi yang sudaah turun temurun dari jaman dahulu,
yaitu doa bersama yang di hadiri para tetangga dan di pimpin oleh pemuka
adat atau yang di tuakan di setiap lingkungan, dan yang di sajikan
berupa Tumpeng, lengkap dengan lauk pauknya. Tumpeng dan lauknya
nantinya di bagi bagikan kepada yang hadir yang di sebut Carikan ada
juga yang menyebut dengan Berkat.
Ngaben (Bali)
Ngaben
adalah upacara pembakaran jenazah atau kremasi umat Hindu di Bali,
Indonesia. Acara Ngaben merupakan suatu ritual yang dilaksanakan guna
mengirim jenasah kepada kehidupan mendatang. Jenasah diletakkan
selayaknya sedang tidur, dan keluarga yang ditinggalkan akan senantiasa
beranggapan demikian (tertidur). Tidak ada airmata, karena jenasah
secara sementara waktu tidak ada dan akan menjalani reinkarnasa atau
menemukan pengistirahatan terakhir di Moksha (bebas dari roda kematian
dan reinkarnasi).
Sekaten
merupakan sebuah upacara kerajaan yang dilaksanakan selama tujuh hari.
Konon asal-usul upacara ini sejak kerajaan Demak. Upacara ini sebenarnya
merupakan sebuah perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad. Menurut cerita
rakyat kata Sekaten berasal dari istilah credo dalam agama Islam,
Syahadatain. Sekaten dimulai dengan keluarnya dua perangkat Gamelan
Sekati, Kyai Gunturmadu dan Kyai Guntursari, dari keraton untuk
ditempatkan di depan Masjid Agung Surakarta. Selama enam hari, mulai
hari keenam sampai kesebelas bulan Mulud dalam kalender Jawa, kedua
perangkat gamelan tersebut dimainkan/dibunyikan (Jw: ditabuh) menandai
perayaan sekaten. Akhirnya pada hari ketujuh upacara ditutup dengan
keluarnya Gunungan Mulud. Saat ini selain upacara tradisi seperti itu
juga diselenggarakan suatu pasar malam yang dimulai sebulan sebelum
penyelenggaraan upacara sekaten yang sesungguhnya.
Tabuik (Sumbar)
Berasal dari
kata ‘tabut’, dari bahasa Arab yang berarti mengarak, upacara Tabuik
merupakan sebuah tradisi masyarakat di pantai barat, Sumatera Barat,
yang diselenggarakan secara turun menurun. Upacara ini digelar di hari
Asura yang jatuh pada tanggal 10 Muharram, dalam kalender Islam. Pada
hari yang telah ditentukan, sejak pukul 06.00, seluruh peserta dan
kelengkapan upacara bersiap di alun-alun kota.Para pejabat pemerintahan
pun turut hadir dalam pelaksanaan upacara paling kolosal di Sumatera
Barat ini.
Satu Tabuik
diangkat oleh para pemikul yang jumlahnya mencapai 40 orang. Di belakang
Tabuik, rombongan orang berbusana tradisional yang membawa alat musik
perkusi berupa aneka gendang, turut mengisi barisan. Sesekali
arak-arakan berhenti dan puluhan orang yang memainkan silat khas Minang
mulai beraksi sambil diiringi tetabuhan.
Saat
matahari terbenam, arak-arakan pun berakhir. Kedua Tabuik dibawa ke
pantai dan selanjutnya dilarung ke laut. Hal ini dilakukan karena ada
kepercayaan bahwa dibuangnya Tabuik ini ke laut, dapat membuang sial. Di
samping itu, momen ini juga dipercaya sebagai waktunya Buraq terbang ke
langit, dengan membawa segala jenis arakannya.
Pasola (Sumba)
Pasola
adalah bagian dari serangkaian upacara tradisionil yang dilakukan oleh
orang Sumba. Setiap tahun pada bulan Februari atau Maret serangkaian
upacara adat dilakukan dalam rangka memohon restu para dewa agar supaya panen tahun tersebut berhasil dengan baik. Puncak dari serangkaian upacara adat
yang dilakukan beberapa hari sebelumnya adalah apa yang disebut pasola.
Pasola adalah ‘perang-perangan’ yang dilakukan oleh dua kelompok
berkuda. Setiap kelompok teridiri atas lebih dari 100 pemuda bersenjakan
tombak yang dibuat dari kayu berdiameter kira-kira1,5 cm yang ujungnya
dibiarkan tumpul
Tingkeban (Jawa)
Upacara
Tingkeban adalah salah satu tradisi masyarakat Jawa, upacara ini disebut
juga mitoni berasal dari kata pitu yang arti nya tujuh, upacara ini
dilaksanakan pada usia kehamilan tujuh bulan dan pada kehamilan pertama
kali. Upacara ini bermakna bahwa pendidikan
bukan saja setelah dewasa akan tetapi semenjak benih tertanam di dalam
rahim ibu. Dalam upacara ini sang ibu yang sedang hamil di mandikan
dengan air kembang setaman dan di sertai doa yang bertujuan untuk
memohon kepada Tuhan YME agar selalu diberikan rahmat dan berkah sehingga bayi yang akan dilahirkan selamat dan sehat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar